Serentetan Pena Jiwa

                           semoga cerita ini memberi inspirasi untuk anda semua :D
Nurhayati, mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah semester dua. Itulah statusku saat ini dengan diamanahi sebagai salah satu mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Beasiswa diperuntukan bagi mereka yang tidak mampu secara ekonomi dan berprestasi. Sebelum mendapat beasiswa ini, saya menjalani berbagai macam proses seleksi dan rintangan lainnya. Aku  masih ingat cerita sebelum mendapat beasiswa ini.
Berawal dari sebuah keluarga yang jauh dari kata “mapan”, keluargaku tinggal di Desa yang elok, di Kota Mangga, menjadi sebuah cerita dalam hidupku. Aku hidup bersama seorang ibu, seorang kakak laki-laki dan tiga orang adik perempuan. Jika kalian bertanya ayah, tolong jangan tanyakan karena air mata ini akan mengalir deras tanpa dikomando, ayahku meninggal dunia lima tahun yang lalu, saat aku duduk di kelas delapan, beliau meninggal dunia karena sakit jantung bengkak yang dideritanya. Sejak itu pula semuanya berubah dengan drastis, ibuku menjadi tulang punggung keluarga dan kakak laki-lakiku yang baru lulus SMA tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Ibuku menjadi pedagang di SD dan MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) dari pagi sampai sore. Hal itu dilakukan untuk membiayai sekolahku dan adik-adikku yang masih duduk dibangku SD.
Saat memasuki kelulusan SMP aku merasa dalam kegelapan, aku divonis tidak bisa melanjutkan sekolah SMA, SMA adalah impianku saat itu, aku memang tidak sepintar anak-anak lain tapi apa salah aku ingin sekolah, sekolah juga mungkin impian anak di seluruh Indonesia, tetapi mungkin aku tidak bisa mencapai impianku itu.
Nothing is Imposibble itulah yang terjadi selanjutnya, Allah Swt. Memberikan jawaban atas segala masalah yang sedang dihadapi hambanya. Tiba-tiba ada seseorang tetangga yang mau menjadikan aku sebagai “anak angkat”nya dan akan disekolahkan SMA oleh tetanggaku itu. Ibuku menanyakan kepadaku hal tersebut dan aku menerimanya dengan senang hati.
Aku mempunyai dua keluarga. Aku mempunyai keluarga baru, keluarga baruku beranggotakan bapak angkat, ibu angkat, dan dua orang kakak laki-laki angkat. Keluarga angkatku sangat baik, aku dianggap seperti anak sendiri, hal ini membuat aku tidak enak hati, oleh karena itu sesuai perjanjian pula setiap pagi-pagi aku bangun kemudian berangkat dari rumahku menuju rumah keluarga angkatku, maklum saja aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan di rumahku sendiri, setelah sampai di rumah orang tua angkatku, aku mempunyai pekerjaan sendiri, pekerjaanku adalah menyapu dan mencuci piring sebelum berangkat sekolah, aku berangkat sekolah dari rumah ibu angkatku. Setelah sepulang sekolah aku pulang ke  rumah ibu angkatku, hal yang biasa aku lakukan dan menjadi rutinitasku sepulang sekolah adalah menyapu, menyetrika baju dan mengepel.
Rutinitas yang begitu padat. Saat semester satu kelas satu SMA aku sering mengantuk di kelas. Mugkin karena kecapekan, dan itu berdampak dalam nilai akademikku yang sering remidial saat ulangan. hal tersebut juga menjadi pelajaran untuku di semester selanjutnya.
Sungguh sayang hanya bertahan dua tahun aku ikut ibu angkatku. Tahun selanjutnya biaya hidupku di tanggung ibuku. Tepatnya saat kelas tiga SMA, saat membutuhkan biaya yang banyak.
Kelas tiga SMA, saatnya menempuh langkah selanjutnya. Sebenarnya aku tidak berani membayangkan apapun yang terjadi dihidupku kelak. Aku sudah cukup lelah menjalani semua ini. Mungkin aku akan bekerja di pabrik, bila untuk kuliah mau biaya dari mana ibu dan kakakku juga sepertinya tidak setuju.  Hal tersebut membuat motivasiku untuk jadi orang sukses pun mulai menurun.
Saat semester dua kelas tiga SMA, ada satu mata pelajaran yang di isi dengan Guru BK, pelajarannya di isi dengan motivasi melanjutkan keperguruan tinggi. Namanya Ibu Fifi, beliau memberitahukan tentang program Bidikmisi, kita bisa kuliah gratis dan untuk biaya hidup tidak perlu bingung karena akan diberi uang 600.000 setiap bulannya.
Aku sebenarnya ingin sekali kuliah, tetapi apa daya ibuku tidak pernah menjawab apa yang aku tanyakan pada ibu setiap kali aku ingin kuliah. Aku pun sering bercerita tentang masalahku ini ke Guru BK, lalu Guru BK ku menceritakan sesuatu tentang kakak kelasku yang kuliah dengan Bidikmisi dan seluruh perjuangan hidupnya. Aku jadi terinspirasi dengan kakak kelasku itu. Aku pun sering menhubungi kakak kelasku itu. Kakak kelasku selalu meberikan motivasi-motivasi kepadaku. Aku semangat sekali, aku mendaftar seleksi masuk penerimaan mahasiswa baru jalur undangan, aku bilang ke ibuku mengenai hal ini walau bagaimanapun aku meminta restu Ibuku.
Aku mulai memiliki harapan. Aku menunggu pengumuman seleksi itu berhari-hari, aku bahkan tidak memikirkan hasil ujian nasionalku.  Tetapi sungguh kenyataan berkata lain saat pengumuman itu tiba, aku dinyatakan tidak lolos seleksi mahasiswa baru bidikmisi melalui jalur undangan.
Aku melihat tulisan merah pada layar monitor Warnet. aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak perduli dengan orang-orang di Warnet itu, tetapi untung saja waktu itu Warnet sedang sepi. Saat melihat pengumunan itu aku bersama sahabatku “sudah tidak apa-apa, kamu masih bisa ikut seleksi masuk jalur tes” sahutnya sambil mengelus punggungku. Sahabatku menenangkanku, tapi aku sangat pesimis, bagaimana tidak aku yakin pasti pesaingnya semakin banyak.
Akhirnya aku pulang dengan lemas dan aku ditanya oleh ibuku apa hasilnya baik. Aku menjawab aku belum lolos seleksi, ibuku menanggapinya dengan diam, ibu selalu diam mulai dari aku mengikuti tes dengan menyiapkan sesuatunya. Bahkan ketika air matakku mengalir ibuku merespons dengan datar. Ibu memang seperti itu. Lain halnya dengan ketiga adik-adikku yang menghibur bahkan sampai ada yang menggambar “mbak eneng anak kuliahan”, aku jadi menangis terharu, aku juga ingin ibuku memberikan motivasi untukku, ibu, ingin sekali rasanya engkau  mengucapkan sesuatu yang menyulut semangatku. Tidak apa-apa, aku harus menjadi orang yang kuat, untung saja aku mendapat motivasi dari Guru-guru, kakak kelasku, dan sahabatku.
Aku mulai mempelajari soal-soal seleksi masuk perguruan tinggi. Soal-soal itu  sulit untuk aku pelajari. Namun aku tidak boleh menyerah, aku tidak mau mengecewakan mereka yang telah mendukungku. Aku akan melakukan yang terbaik.
Akhirnya tiba pula tes seleksi masuk perguruan tinggi tersebut. Entah mengapa tiba-tiba tubuhku lemas sewaktu aku sedang mengerjakan soal, mungkin karena aku sedang tidak berada di kampung sendiri, aku mengikuti tes ini di Cirebon, aku menginap di rumah guru matematikaku untuk mengikuti tes tersebut. Jarak rumah guruku ke tempat tes cukup jauh dan jalannya agak membingungkan. Aku beruntung mempunyai guru sebaik Ibu Munaenih, beliau mengantarkanku berangkat serta pulang dari tes.
Hidup ini penuh tantangan dan harus bersabar, akupun bersabar menuggu pengumuman seleksi tes ini, aku pasrah akan apa yang terjadi. Saat pengumuman tiba, aku melihat di Warnet itu lagi, maklum saja aku tidak punya Laptop. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, ketika melihat monitorpun aku terkejut, aku di terima di Universitas Negeri Semarang. Aku menangis bahagia, orang yang melihat di warnetpun bahagia ketika mendengar aku lolos seleksi di perguruan tinggi, negeri pula. Aku pun pulang ke rumah dan memberitahukan kepada ibuku tentang hal tersebut, Ibuku terkejut dan menangis dan kami akhirnya berpelukan. Ini pertama kalinya aku mendapat pelukan hangat dari ibuku kembali setelah sekian lama beliau terdiam.
Sampai  akhirnya rumahku di survei oleh pihak Unnes sebagai syarat Bidikmisi. Tepatnya oleh dua orang laki-laki yang semuanya mahasiswa. Unnes. Mereka mewawancarai Ibu dan aku. Mereka juga melihat-lihat sekeliling rumahku dan meminta rekening listrik. Setelah itu kemudian mereka pulang. Dan aku menunggu beberapa hari untuk seleksi Bidikmisi, Allahamdulillah aku lolos. Aku senang sekali akhirnya aku bisa kuliah, semua perjuanganku tidak sia-sia.

“Sebenarnya ibu juga ingin kamu kuliah anakku sayang, ibu diam bukan berti tak perduli nak, hanya saja ibu tak punya rupiah untuk bekalmu, ibu mana yang tidak ingin anaknya kuliah” ucap Ibukku ketika mau melepasku ke semarang. Aku pun jadi mengerti mengapa dulu ibu begitu kepadaku, yang jelas kita hidup berhak membuat mimpi kita menjadi nyata bagaimanapun sulitnya rintangan yang harus kita hadapi, nikmati saja, karena semua pasti akan baik baik saja, pasti memberikan sebuah rentetan warna-warni pena di memori dan jiwa kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar